Langsung ke konten utama

[Cerpen] Facebook On Love

Aku merasa harga diriku tercabik-cabik oleh kenyataan pahit yang kudapati hanya lewat jejaring social bernama facebook. Hm, sebenarnya aku tak perlu merasa serendah ini. Karena, aku juga tak tau bagaimana perasaanku sendiri. Yang kuyakini sekarang, hatiku sedang remuk. Oleh seorang wanita yang menjadi kontak listku di facebook. Hanya karena, aku melihat status relationshipnya.

Oke. Aku tak berhak marah padaya. Aku juga tak berhak mempertanyakan mengapa ia harus mengganti statusnya. Ataukah aku yang bodoh? Yang tidak melihat status hubungannya selama ini? Hendi, sadarlah.. kau sedang dipermainkan oleh perasaanmu sendiri!!

***

Azkiya Azuza nama yang tertera dalam akun facebooknya. Aku mengenalnya hampir setahun, lewat tulisannya di rubric note. Salah satu aplikasi facebook. Maka mengalirlah pertemanan kami. Dan kukira, aku begitu dekat dengannya.

Setauku (atau aku yang bego), dia tidak memasang status apapun difacebooknya. Waktu iseng-iseng kutanya apakah ia sedang dekat dengan seseorang, ia mantab menjawab “tidak”. Bahkan “malas” untuk menjalin hubungan. Kurasa saat itu, perasaanku benar-benar bermain, dimana di dalamnya ada setan keji menyelusup dan membidik mantra cinta dalam hatiku. Sialan!

Dunia ini mungkin yang ada hanya logika buatku. Hal seperti perasaan itu tidak pernah tetap. Mungkin sesuatu itu rasanya seakan-akan terlihat bagus, tapi itu mungkin tidak bagus. Perasaan itu tidak pernah pasti. Perasaan itu selalu mempermainkan. Kamu bisa membuat sesuatu terlihat keren dengan memainkan perasaan seseorang.

Tapi logika selalu bilang apa adanya. Hal yang paling jujur di dunia itu hanya logika. Perasaan itu hal yang kadang sangat tidak jujur. Amat-sangat-tidak jujur. Namun, bukankah cinta itu berawal dari sebuah rasa yang berkembang menjadi perasaan?
Saat itu aku sangat marah. Benar-benar marah. Brengseknya aku marah pada diriku sendiri yang begitu dungu.

***

Aku sedang meeting di kantor, tiba-tiba suara mcfly menjerit dari saku celanaku. Sebuah sms. Aku terkejut melihat nama di screennya. Perempuan yang membuatku lemah.
“coba tebak, aku lagi dimana? 😛”
Aku tak membalasnya dan HP kumatikan.

***

Tubuhku masih berbalut handuk putih ketika mama ngeloyor masuk ke kamarku.

“HPmu kok ga aktif,hen? Dari tadi mama telponin ga nyambung-nyambung” Tanya mama sembari duduk disudut ranjangku. Aku asik mengeringkan rambut dan mendengar mama mengoceh kembali. “jangan bilang lupa bawa charge, mama udah taroh charge hp di setiap sudut ruangan yang ada stop kontaknya di kantormu”.

Aku tersenyum. Lalu duduk menyebelahi perempuan yang amat kucintai. “maaf ma, tadi Hendi meeting di kantor, jadi sengaja Hp dimatiin”. Mama menjawab seadanya lalu memintaku mengantar beliau ke sebuah pusat perbelanjaan. Sepertinya sembako di rumah sudah menipis, setipis kulit ari.
 
Aku mengaktifkan HP sambil membawa kereta mini tempat barang-barang yang dibeli mama. 5 pesan masuk dari Azkiya. Bernada sama. “panasnya lengket. Tapi asiiiikkk. Ka Hendi dimana sih? Ga kepanasan apa?”.
 
“Dasar manja” sahutku dalam hati sambil tersenyum. Lalu terlintas kembali hal yang membuatku dongkol beberapa bulan yang lalu. Status relationshipnya. Uh, pria manakah yang beruntung itu? Ingin kuhadiahi bogem mentah.

***

Selepas sholat isya, aku membenamkan diri di atas kasur empuk hasil sulaman mama. Bergegas ku ambil kabel telpon yang akan menghubungkanku dengan dunia maya dengan sekali colok. Pertama-tama, aku mengecek email. Lalu menuju googlescholar untuk mencari beberapa jurnal penelitian. Terakhir aku membuka akun facebookku.

Aku tertegun mendapati homepageku. Ya allah. Benarkah ia kini berada di kotaku? Aku mengucek-ngucek mata, kembali memastikan apa yang kulihat. Postingan terakhirnya sejam yang lalu. Foto-fotonya di Pantai Losari, sedang berselancar. Kupastikan kembali. Jangan-jangan hasil editan. Karena setauku, azkiya jago ngedit foto. 

Fotonya murni. Tertera jelas tanggal dan jam hasil pemotretannya di sudut bawah foto yang diuploatnya. Kurogoh HP dalam tas yang tadi kukenakan. Menekan nomernya. Suaranya renyah di seberang sana. Setelah menjawab salamnya, aku meneruskan “kamu kok ga bilang-bilang kalau lagi di Makassar?” .

“yeeee, ka Hendi tuh yang sok sibuk. Di sms ga dibales. Ditelpon, HPnya mati”
Aku terbahak. Seketika, terlintas dalam benakku untuk mengadakan kopi darat (kopdar). “ketemuan yuk?”.

Suara diseberang sana malah menjerit “jam berapa sekarang,kak?”
Kuteliti kembali jam dinding yang bertengger tepat di atas pintu kamarku. 11.45 pm. Setelah meminta maaf, aku menyuruhnya melanjutkan istirahatnya.
Aku kembali mengingat sms-smsnya dan mengorelasikannya dengan beberapa kejadian lucu hari ini.

***

“gimana ya,kak? Hari ini aku mau mengunjungi rumah saudara”

“kamu kapan balik ke jogja?” kataku.

“insyaallah lusa,kak. Aku ga lama kok disini,kebetulan dapet tiket gratis”

Setelah berjuang memaksanya, akhirnya kiya mengiyakan untuk bertemu denganku. Setelah magrib tentunya.

“kamu mau kita ketemu mana? Hotel mana?”terlintas pikiran nakalku untuk menjahilinya.
“hotel? Hiiiiii” kiya menjerit histeris. “yang jelasnya traktir makan karena kak Hendi nyuekkin kiya kemaren”

“oke. Lea-lea gimana? Ikannya seger-seger loh,kiya”

“udah,kemaren,kak”

“mie cheng?”

“udaaaaah”

“mie titi yang dijalan Sulawesi?”

“udah juga”

“lesehan dani kalau gitu”

Setelah berembuk untuk sebuah kesepakatan, akhirnya aku memutuskan hubungan seluler pagi ini dan kembali focus ke kerjaan.

***

Aku datang setengah jam lebih awal dari Kiya. Bosan menunggu, akhirnya yang ditunggu menampakkan diri. Kiya memakai baju putih bermotif biru terang bertuliskan “Makassar Kota Daeng”. Rambutnya digelung rapi. Untuk pertama kalinya aku melihatnya dalam dunia nyata. Cantik.

Kami terlibat percakapan yang panjang.

“pacarmu ga marah kita hanya berdua disini?”

Kiya menatapku sambil menunjukkan cengiran khasnya yang sering  kulihat di dalam album fotonya difacebook. “pacarku ga disini,kak. Pacarku di Jogja. Jadi aman-kan?”

Dadaku serasa ditonjok Chris Jon hingga nyaris tak bernyawa. “bodoh” umpatku dalam hati. Lagi-lagi perasaan yang menguasaiku. Dan bukannya logika.

“bisa jadi ada paparazzi disini”

Kiya terbahak dan menunjukkan rentetan giginya yang putih dan tersusun rapi. “cariin dong,kak”

“cariin apa? Paparazzi? Sini kupotret”

Kiya menggeleng

“cariin pacar dong”

“itu yang difacebookmu?”

Kiya menggeleng lagi. Dan mengalirlah cerita yang sedari dulu pingin kudengar. Mendapati kenyataan yang begitu indah bahwa Kiya masih single, membuat hatiku disiram cat catilac berwarna pink permanen.

Aku berdehem untuk mengatasi kesenanganku. Lalu tertawa mendengar ceritanya kalau pacar yang ada dalam facebooknya adalah pacar hayalannya.
“kamu gila”sahutku. Jujur. “ngapain juga pake pasang status gitu?”

“jadi, kalau mau putus atau ganti pacar baru, ga ada pihak yang tersakiti,kak”jawabnya masih dalam cengiran khasnya.

“kalau mau dapat pacar yang baik, kamu pakai jilbab dong,kiya. Biar kelihatan lebih anggun gitu”

“kata Krisdayanti, kak. Lebih baik hati dulu yang dijilbabi, baru deh kepala”
Aku terbahak mendengar jawabannya. Hingga air mataku keluar.

***

:.Bandara Hasanuddin.: 

Aku mengantarnya hingga ke pintu masuk. Tak ada adegan lebay seperti dalam film lama, Ada Apa Dengan Cinta. Kami hanya bersalaman. Perempuan itu kini meninggalkanku. Dalam kesendirian yang tak berujung. Kenyataan bahwa perasaanku padanya tak bertepi, diam-diam kini kuingkari sepenuh hati. Kini segalanya berubah. Cinta itu memang butuh logika, juga butuh perasaan. Keduanya berjalan seimbang dan selaras. Hingga kelak akan indah pada waktunya.

***

Kembali aku memikirkan kata Azkiya terakhir sebelum melepas kepergiannya kembali ke Jogja. Aku menelponnya.

“Kiya, masih minat dicariin pacar ga nih? Aku ada stok ini”

“boleh,hehee. Makasih kak. Paketin”

“siap bos”

“eh, serius,kak?”

“iya, palingan 2 hari lagi sampai tuh. Tungguin ajah”

“paketan ikan ya,kak? Wah,maaf jadi ngerepotin”

Apa? Ikan? Jadi, menurutnya, aku itu ikan? Dasar Azkiya Azuza, zuka bikin zuzah perazaan orang! Tega-teganya! Aku meninju udara sambil tersenyum riang.

***

:.Jogja.:

Kuketuk pintu sebuah rumah. Rumah yang begitu indah dan asri. Halamannya yang begitu luas, dengan padang rumput hijau yang menentramkan hati. Aku sering melihat taman ini di galeri Azkiya dalam facebooknya. Seorang perempuan berkerudung biru membukakan pintu untukku.

“kak Hendi? Silahkan masuk,kak”

Aku pangling. Benarkah ia, azkiya? Subhanallah, kini Kiya sudah berkerudung.

“hoi..hoi,kak Hendi” azkiya melambai-lambaikan tangannya dihadapanku.

Aku tersadar dan tersenyum ketika kudapati Azkiya tersipu malu melihat kedatanganku.
Setelahnya, aku memasuki sebuah rumah yang begitu indah. Penuh dengan kesederhanaan. Orang tua Azkiya menyambut kedatanganku.

“kak Hendi mau minum apa? Panas,dingin?”

“air putih ajah,kiya”

Azkiya melaluiku dengan berjalan menuju dapur.
Orang tua Azkiya sangat asyik diajak bercengkrama. Dalam tutur budaya jawa, mereka terlihat sangat santun.

Aku mengutarakan niat baikku pada orang tua Azkiya.

“apa nak Hendi yakin dengan keputusannya?”

“insyaallah,pak”

***

Azkiya clingak-clinguk melihat keluar rumah “paketannya mana,kak Hendi?” tanyanya. 

“katanya mau bawain aku paketan cowok cakep nan sholeh dari Makassar?”

“ini paketannya, nduk” sahut ayah Azkiya sambil menepuk mesra pundakku.

The end

Komentar

  1. Gimana caranya nulis cerpen lintas latar kota begini ya.... Endingnya ada punchline pula. Ah suka!!! Btw Azkiya itu fiktif atau non fiktif? Hahaha aku kepo....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Andyna.
      Ga tau juga ya caranya gimana, karena cerpen di atas just follow my heart *halaaah* :D. Gak pake tutorial lintas provinsi,hehehe

      Azkiya itu non fiktif yang di fiktifkan *apaancoba*? hahaha..

      salam kenal ya ^^

      Hapus
  2. yeay happy ending :)

    saya salah satu orang yang bertemu jodohnya lewat FB say, hihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berjasa sekali memang facebook di kak? Masyaallah ^^

      Hapus
  3. Fressh nya baca cerita ini
    Like this

    BalasHapus
  4. Waah..cerpennya kereeennn..
    Enak bacanyaaa..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Es Gosrok Pemikat Hati

Halo reader yang budiman Assalamualaykum Wr. Wb.

Kembali lagi dengan gw Raya Makyus *ich ga ada yang nanya loh yaaa😛* yang kali ini akan membahas tentang jajanan zaman kecil dulu. Kalau lo sering melihat meme bertaburan dan terkadang dijadikan media untuk bernostalgia di sosmed dengan kalimat "kamu pernah makan jajanan ini? berarti kamu artis era 90-an" dan semacam ada kerinduan yang terletak di ujung hati kecil lo, selamat cuuuy. Kita seangkatan! *salaman*👏.
Jajanan memorable yang sukses jaya memflash back memori gw pada tahun 1993-1994 kala mengenyam manisnya pendidikan Sekolah Dasar di Kota Kecil bagian Sulawesi Tenggara. Raha. 
Sejujurnya gw itu.... *mulai menunjukkan kesombongan diri*😎 Bukan seperti anak kecil lainnya yang diberi kebebasan berekspresi dengan makanan yang bukan home made sama orang tuanya. Bukan karena gw anak perawan sematawayang loooh ya jadi dijaga ketat.
Berhubung emak gw adalah menkes julukannya doang sihdari zaman bahuelanya, dimana segala sesuatu yan…

Karena BAHAGIA Datangnya dari Hati

Jika bahagia bisa dibeli, mungkin saja saya sudah tak kebagian stok bahagia. Sold out laris manis -tanjung kimpul- terjual dan dibeli oleh mereka-mereka yang bergelimangan materi. Sayangnya, kebahagiaan tidak diperjual belikan karena ia adalah hak bagi setiap manusia untuk menikmatinya, merasakannya dan meresapinya dengan cara mereka sendiri. Gratis!

:.Bahagia Versi Ibu Raya.:
Bahagia itu sederhana. Karena kata bahagia maknanya luas, maka bahagia itu sesungguhnya cerminan jiwa kita. Jika dengan melihat cowok ganteng atau cewek cantik (misalnya loh ya) kita merasa bahagia, maka berbahagialah. Jika dengan melihat uang yang banyak dalam tabungan kita merasa bahagia, maka berbahagialah. Jika mendengar sahabat kita menikah dan kita merasa bahagia, maka berbahagialah. Jika dengan sujud kepadaNya tanpa ada gangguan dan khusyuk bisa membuat bahagia, maka berbahagialah. Lihatlah, betapa bahagia tidak harus dengan dibayar dengan rupiah. Karena kebagahagiaan terpancar dari jiwa kita ya…